Minggu, 14 September 2014

MAKALAH SKI : KHALIFAH UTSMAN BIN AFFAN DAN ALI BIN ABI THALIB

KHALIFAH UTSMAN BIN AFFAN (644-656 M)

1.      BIOGRAFI KHALIFAH UTSMAN BIN AFFAN
Utsman bin Affan adalah salah seorang sahabat setia Rasulullah Saw. Yang tidak hanya kaya raya, tapi juga dermawan. Utsman bi Affan tergolong sebagai As-sabiqunal Awwalun .
Utsman bin Affan dilahirkan di Makkah pada tahun ke 6 (pada tahun 573 masehi) setelah kelahiran Rasulullah di Ta'if, Jazirah Arab (Sekarang Saudi Arabia). Ia termasuk kabilah Ummah dari suku Quraisy. Ayahnya bernama Affan bin Abul Ash bin Umayyah bin Abdi Syam bin Abdi Manaf merupakan keturunan Bani Umayyah yang cukup disegani pada saat itu. Nama ibunya adalah Arwa binti Kuriz bin Rabi’ah bin Habib bin Abdi Asy-Syams bin Abd Almanaf.
Jika ditelusuri silsilah keturunannya dengan nabi maka akan bertemu pada kakeknya yang keenam yakni Abdi Manaf Ibnu Qushay. Utsman adalah saudagar sukses yang berlimpah kekayaan harta. Namun, meski demikian beliau dikenal sebagai sosok yang rendah hati, pemalu, dan dermawan sehingga beliau begitu dihormati oleh masyarakat di sekelilingnya.
Bagi Utsman, “Kekayaan bukanlah tujuan untuk mendapatkan kebahagiaan melainkan hanyalah sarana”.
Pada zaman Nabi Muhammad SAW. Usman bin Affan mengikuti beberapa peperangan, di antaranya Perang Uhud, Khaibar, pembebasan kota mekkah, Perang Thaif, Hawazin, dan tabuh, sedangkan Perang Badar beliau tidak ikut karena disuruh oleh Rasulullah SAW menunggu istrinya Ruqayyah yang sedang sakit sampai meninggalnya. Tak lama kemudian Utsman dinikahkan dengan adik Ruqayyah yaitu Ummu Kaltsum. Para sahabat memandang Utsman termasuk orang yang beruntung. Beliau mengawini dua puteri Rasulullah. Mereka menjulukinya dengan sebutan “Dzun Nurain” yang artinya “Pemilik Dua Cahaya”. Ummu Kaltsum meninggal juga pada masa Rasulullah masih hidup. Dari perkawinannya dengan kedua putri Rasulullah, Utsman bin Affan tidak diberikan keturunan oleh Allah swt.
Ia juga mempunyai gelar lain yaitu, “ Al-Ghani” yang artinya kaya raya, karena ia seorang pedagang yang selalu bertambah pendapatannya dari hari ke hari.

2.      UTSMAN BIN AFFAN MASUK ISLAM
Masuknya Utsman kedalam Islam berawal dari sebuah suara dalam mimpinya di bawah rindang pohon antara maan dan azzarqa yang menyarankan agar beliau segera kembali ke Mekkah sebab orang yang bernama Muhammad telah muncul membawa ajaran baru yang kelak akan merubah dunia sebagai utusan Tuhan. Setelah terbangun dari mimpinya beliau bergegas kembali ke Mekkah dan menanyakan hal ihwal ataupun makna yang tersimpan dari kejadian yang menimpanya. Kemudian beliau bertemu dengan Abu Bakar dan mengajaknya untuk mengikuti langkahnya yang lebih dahulu memeluk Islam. Lalu menghadaplah keduanya kepada Rasulullah untuk menyatakan keislamannya. Ustman bin Affan masuk Islam pada usia 30 tahun.
Sungguh tak terbilang pengorbanannya terhadap Islam, tak terbatas pada hartanya saja yang selalu dibelanjakan di jalan Allah nyawanya pun teramat sering terancam dengan berbagai pengucilan dan penyiksaan dari kerabat yaitu pamannya, Hakam bin Abil Ash dan pemuka Quraisy ketika mereka tahu keislamannya. Di sisi lain Allah serta Rasulnya begitu mencintainya sehingga pernah satu riwayat disebutkan bahwa beliau adalah salah satu penghuni syurga yang akan  menemaniRasul kelak.
Pada masa Rasulullah masih hidup, Utsman terpilih sebagi salah satu sekretaris Rasulullah sekaligus masuk dalam Tim penulis wahyu yang turun dan pada masa Kekhalifahannya Al Quran dibukukan secara tertib.
Utsman seorang pedagang yang sukses. Di daerah Hijaz beliau dikenal sebagai pedagang yang jujur, memiliki integrasi yang tinggi, dan seorang yang sholeh dan rendah hati.
Kesalehan sosialnya terbukti dengan membeli telaga milik Yahudi seharga 12.000  dirham dan menghibahkannya kepada kaum kaum muslimin pada saat hijrah ke Yatsrib. Mewakafkan tanah seharga 15.000 dinar untuk perluasan Masjid Nabawi. Menyerahkan 940 ekor unta, 60 ekor kuda, 10.000 dinar untuk keperluan Jaisyul Usrah pada Perang Tabuk. Setiap hari Jum’at, Utsman bin Affan membebaskan seorang laki-laki budak perempuan.

3.      PROSES PENGANGKATAN UTSMAN BIN AFFAN SEBAGAI KHALIFAH
Umar bin Khattab meninggal dunia setelah ditikam oleh seorang yang bernama Peroz (Abu Lu’lu’ah) dan bertahan selama 3 hari setelah penikaman. Berkuasa selama 10 tahun 6 bulan 4 hari. Ketika masih berbaring sakit pasca penikaman Umar bin Khattab membentuk sebuah tim yang terdiri atas 6 orang sahabat terkemuka untuk menentukan penggantinya sebagai khalifah.
            Sahabat yang menjadi anggota formatur adalah Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Abdur Rohman bin Auf, dan Saad bin Abi Waqash. Untuk menghindari deadlock dalam pemilihan, Umar mengangkat anaknya Abdullah bin Umar sebagai anggota formatur dengan sertai hak pilih tanpa berhak untuk dipilih. Thalhah bin Ubaidillah tidak ada di Madinah dan baru kembali ke Madinah setelah pemilihan Khalifah selesai dilakukan. Dalam sebuah penjajakan pendapat yang dilakukan oleh Abdur Rahman bin Auf terhadap anggota formatur yang ada, diperoleh 2 calon khalifah yaitu Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Tholib. Ali bin Abi Tholib memilih Utsman bin Affan untuk menjadi khalifah. Sa’ad bin Abi Waqash memilih Utsman, sementara Abdur Rahman bin Auf dan Zubair bin Awwam tidak diketahui siapa hak pilihnya direalisasikan. Dewan musyawarah akhirnya berhasil mengangkat Umar bin Khattab.
Pembai’atan Utsman sebagai khalifah berdasar kesepakatan enam orang sahabat termasuk dirinya yang telah ditunjuk langsung oleh Umar ibn Khattab untuk menjadi penggantinya yang akan melanjutkan kepemimpinan dan perjuangannya dalam menyebarkan Islam ke penjuru dunia. Saat menduduki amanah sebagai khalifah beliau berusia sekitar 70 tahun. Dari masa inilah awal pengangkatan seorang khalifah secara demokratis dengan jalan musyawarah yang diwakili oleh keenam orang sahabat sepanjang sejarah manusia.

4.      KEBIJAKAN DAN KEPEMIMPINAN UTSMAN BIN AFFAN
a.       Perluasan Wilayah Islam
Utsman harus bekerja lebih keras lagi dalam mempertahankan dan melanjutkan perjuangan panji Islam sebab berbagai ancaman dan rintangan akan semakin berat untuknya mengingat pada masa sebelumnya telah tersiar tanda-tanda adanya negeri yang pernah ditaklukkan oleh Islam hendak berbalik memberontak padanya.
Pada tahun pertama dari khilafah Ustman, yaitu tahun 24 H, negeri Rayyi berhasil ditaklukan. Sebulumnya negeri ini pernah ditaklukan, namun kemudian dibatalkan. Ustman mengangkat Sa’ad bin Abi Waqqash menjadi gubernur Kufah menggantikan Mughirah bin Syu’bah.
Pada saat perluasan wilayah ke Khurasan, Utsman bin Affan mengirim pasukan yang dipimpin oleh Saad bin Al-Ash dan Hudzaifah bin Yaman. Melalui pertempuran yang sengit akhirnya daerah itu dapat dikuasai oleh tentara Islam. Dalam perluasan wilayah ke Armenia tentrara Islam dipimpin Salman Rabi’ah Al-Bahy.
Afrika utara sebelum kedatangan Islam telah dijajah oleh bangsa Romawi. Rakyatnya hidup menderita akibat tekanan dari bangsa Romawi. Untuk membebaskan rakyat Afrika Utara (Tunisia) Utsman mengirim pasukan dipimpin oleh Abdullah bin Saad bin Abi Saad bin Abi Sarah. Tentara Islam berhasil membebaskan bangsa Afrika Utara dari penajajahan bangsa Romawi. Dariafrika Utara tentara Islam menuju ke daerah Raid an Azerbaijan serta ke Amuriah dan Cyprus.
Dengan demikian pada masa pemerintahan Utsman bin Affan Islam telah meluas ke sebelah timur hingga ke Armenia dan Azerbaijan, sedangkan ke sebelah barat wilayah Islam telah sampai ke Tripoli. Maka Islam lebih luas wilayahnya jika dibandingkan dengan Imperium sebelumnya yakni Romawi dan Persia karena Islam telah menguasai hampir sebagian besar daratan Asia dan Afrika.
b.      Kodifikasi Al-Qur’an
Pekerjaan yang paling berat yang dirasakan oleh Utsman bin Affan pada masa pemerintahannya adalah pengumpulan Al-Qur’an (Kodifikasi Al-Qur’an) yang merupakan lanjutan kerja yang diawali oleh Abu Bakar As-Shiddiq atas inisiatif Umar bin Khattab yang kemudian disimpan ditangan istri Nabi Hafsah binti Umar. Sebagaimana yang telah melatarbelakangi pengumpulan Al-Qur’an pada zaman Abu Bakar dilatarbelakangi oleh syahidnya 70 sahabat Rasulullah yang hafal Al-Qur’an pada saat perang Yammah. Sedangkan yang melatarbelakangi pengumpulan Al-Qur’an pada zaman Utsman bin Affan adalah perbedaan qiro’at (baca) Al-Qur’an yang menimbulkan percekcokan antara murid dan gurunya.
Pada saat penyalinan Al-Qur’an yang kedua kalinya, panitia (Lajnah) penyusunan mushaf Al-Qur’an yang dibentuk olah Utsman bin Affan melakukan pengecekan ulang dengan meneliti kembali mushaf yang sudah disimpan di rumah Hafsah dan membanding-bandingkannya dengan mushaf-mushaf yang lain.
Ketika itu terdapat empat mushaf al-Quran yang merupakan catatan pribadi.
1)      Mushaf al-Quran yang ditulis oleh Ali bin Abi Thalib, terdiri atas 111 surah. Surah pertama adalah surah al-Baqarah dan surah terakhir adalah surah al-Muawidzatain.
2)      Mushaf al-Quran yang ditulis oleh Ubay bin Ka’ab, terdiri atas 105 surah. Surah pertama adalah al-Fatihah dan surah terakhir adalah surah an-Nas.
3)      Mushaf al-Quran yang ditulis oleh Ibn Mas’ud, terdiri atas 108 surah. Surah yang pertama adalah al-Baqarah dan yang terakhir adalah surah Qulhuwallahu Ahad.
4)      Mushaf al-Quran yang ditulis oleh Ibn Abbas, terdiri atas 114 surah. Surah pertama adalah surah Iqra dan yang terakhir adalah aurah an-Nas.
Selain itu tugas utama panitia adalah menyalin mushaf Al-Qur’an dan menyeragamkan qiro’at atau bacaannya, yaitu dialek Quraisy. Setelah berhasil membuat salinannya, Zaid bin Tsabit mengembalikan naskah yang disalinnya kepada Hafsah. Khalifah Utsman memerintahkan kepada Zaid bin Tsabit agar membuat sejumlah salinan mushaf dan dikirim ke Makkah, Madinah, Basroh, Kufah, dan Syiria dan salah satunya disimpan di rumah Utsman bin Affan yang kemudian disebut dengan mushaf Al-Imam. Sedangkan mushaf lain selain mushaf yang disusun oleh panitia yang dipimpin oleh Zaid bin Tsabit diperintahkan untuk dibakar. Penyusunan Mushaf Utsmani telah berhasil menyelamatkan dan mengeluarkan umat Islam dari kemelut karena perbedaan qiro’at.
c.       Otonomi Daerah
Pada zaman Khalifah Abu Bakar dan Umar, wilayah dibedakan menjadi dua yaitu wilayah yang pemimpinnya memiliki otonomi penuh dan pemimpinnya disebut Amir, dan wilayah yang tidak memiliki otonomi penuh yang pemimpinnya disebut wali. Pada zaman Utsman bin Affan dilakukan perubahan status wilayah sehingga semua wilayah memiliki otonom penuh. Oleh karena itu seluruh pemimpin seluruh wilayah bergelar Amir
An-Najjar sebagaimana dikutip oleh Jaih Mubarok, menginformasikan pembagian wilayah otonomi dan amirnya sebagai berikut:
No
Wilayah
Nama Amir
1.
Makah
Nafi Ibn Abdul Harits al-Khuza
2.
Tha’if
Sufyan bin Abdullah al-Tsaqafi
3.
Shan’a
Ya’la bin Munbih
4.
Jand
Abdullah ibn Abi Rabi’ah
5.
Bahrain
Utsman ibn Abi al-Ash al-Tsaqafi
6.
Kuffah
Al-Mughirah Ibn Syu’bah al-Tsaqafi
7.
Bashrah
Abu Musa Abdullah Ibn Qais al-Asy’ari
8.
Damaskus
Muawiyah ibn Abi Sufyan
9.
Hims
Amir ibn Sa’d
10.
Mesir
Amr Ibn Al-Ash

Pemerintahan khalifah Utsman bin Affan berlangsung selama 12 tahun, dibagi menjadi dua priode, enam tahun pertama merupakan pemerintahan yang bersih dari pengangkatan kerabat sebagai pejabat Negara. Sedangkan priode kedua enam tahun terakhir merupakan priode pemerintahan yang tidak bersih dari pengangkatan kerabat sebagai pejabat Negara. Rupaya khalifah Utsman ini melupakan pesan pendahulunya khalifah Umar bin Khatab, agar khalifah setelahnya tidak mengangkat kerabat sebagai pejabat Negara.
Tindakan khalifah Utsman yang mengangkat banyak pejabat dari kalangan keluraga Khalifah ini, menimbulkan banyak reaksi dari masyarakat muslim, terlebih dari mereka yang dipecat dari jabatannya tanpa alasan yang jelas. Selain itu, banyaknya para bawahan khalifah yang melakukan banyak penumpangan dari ajaran Islam, seperti yang dilakukan oleh Walid ibn Uqbah yang pernah melaksanakan shalat subuh empat rakaat karena dalam keadaan mabuk. Tanah Fadak yang pernah disengketakan oleh Fatimah dengan khalifah Abu Bakar dimasukan menjadi milik pribadi oleh Marwan ibn Al-Hakam. Utsman tidak bisa mengatasi ambisi keluarga, sehingga pelanggaran tidak dapat diatasi. Maka akhirnya muncul perasaan ketidak pusan dan tidak percaya dari kalangan umat Islam terhadapnya.

d.      Membentuk Angkatan Laut
Ide atau gagasan untuk membuat sebuah armada laut Islam sebenarnya telah ada sejak masa kekhalifahan Umar Ibn khattab namun beliau menolaknya lantaran khawatir akan membebani kaum muslimin pada saat itu. Setelah kekhalifahan berpindah tangan pada Utsman maka gagasan itu diangkat kembali kepermukaan dan berhasil menjadi kesepakatan bahwa kaum muslimin memang harus ada yang mengarungi lautan meskipn sang khalifah mengajukan syarat untuk tidak memaksa seorangpun kecuali dengan sukarela.
Pada masa pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan, daerah Islam telah sampai ke Afrika, Mesir, Cyprus, dan Konstantinopel. Daerah-daerah ini banyak dikelilingi lautan. Atas usul Mu’awiyah bin Abi Sufyan, Guberur Damaskus, Utsman menyetujui pembentukan armada laut yang dilengkapi personil dan sarana yang memadai.
e.       Merehab Mesjid Nabawi di Madinah
Utsman bin Affan mengadakan rehabilitasi (perluasan dan perbaikan) Mesjid Nabawi. Mesjid tersebut diperluas dan bangunannya diperindah. Tiang-tiangnya diganti dengan beton. Sebagiannya dinding-dindingnya diukir dengan ukiran –ukiran yang indah.

5.      AKHIR KEKHALIFAHAN UTSMAN BIN AFFAN
Dalam memilih para pejabat yang membantu beliau memerintah, sebagian besar adalah  masih famili atau keluarga dekat. Pengawasan terhadap perilaku  pejabat kurang sekali mendapat pengawasan. Hal ini mungkin karena khalifah yang sudah lanjut usiakarena usianya sudah menginjak 70 tahun. Juga beliau percaya dengan para sahabat yang masih merupakan keluarga. Banyak keluhan masyarakat yang tidak sampai kepada telinga beliau. Hal itu menjadikan resah dan protes masyarakat. Puncak keresahan ini adalah terjadinya pemberontakan-pemberontakan terhadap khalifah. Pemberontakan-pemberontakan itu jugalah yang akhirnya mengakhiri hidup beliau pada jum’at sore 18 Dzulhijjah 33 H/656 Mpada usia 82 tahun.


KHALIFAH ALI BIN ABI THOLIB (656-661 M)

1.      BIOGRAFI KHALIFAH ALI BIN ABI THOLIB
‘Alī bin Abī Thālib lahir sekitar 13 Rajab 23 Pra Hijriah/599M – wafat 21 Ramadan 40 Hijriah/661 Mdi Mekkah, daerah Hijaz, Jazirah Arab, adalah salah seorang pemeluk Islam pertama dan juga keluarga dari Nabi Muhammad.Ali dilahirkan dari ibu yang bernama Fatimah binti Asad, dimana Asad merupakan anak dari Hasyim, sehingga menjadikan Ali, merupakan keturunan Hasyim dari sisi bapak dan ibu.
Beliau bernama asli Haydar bin Abu Thalib, paman Rasulullah SAW. Haydar yang berarti Singa adalah harapan keluarga Abu Thalib untuk mempunyai penerus yang dapat menjadi tokoh pemberani dan disegani diantara kalangan QuraisyMekkah. Setelah mengetahui sepupu yang baru lahir diberi nama Haydar, Rasulullah SAW terkesan tidak suka, karena itu mulai memanggil dengan Ali yang berarti Tinggi (derajat di sisi Allah).
Didikan langsung dari Rasulullah SAW kepada Ali dalam semua aspek ilmu Islam baik aspek zhahir (exterior)atau syariah dan bathin (interior) atau tasawuf menggembleng Ali menjadi seorang pemuda yang sangat cerdas, berani dan bijak, fasih dalam berbicara, dan salah satu orang yang paling banyak meriwayatkan hadits Rasulullah SAW.
Gelar Ali bin Abi Thalib yaitu Babul Ilmu (Gerbang Ilmu), Amirul Mu’minin, Zulfikar, Assadullah dua, Karramallahu Wajhahu, Imamul Masakin (Pemimpin Orang Miskin), dan Almurtadha

2.      KEHIDUPAN ALI BIN ABU THALIB SEBELUM MASUK ISLAM (SEMASA KECIL)
Ali bin Abu Thalib adalah kemenakan Rasulullah. Ketika Ali masih kanak-kanak penduduk Mekkah dilanda kelaparan. Untuk mengurangi penderitaan Abu thalib, maka Muhammad memohon kepada pamannya Abbas untuk memberikan bantuan kepada Abu Thalib. Maka diputuskanlah hal tersebut. Abbas membantu memelihara Ja’far, sedangkan Muhammad membantu memelihara Ali.
Sejak saat itu Ali tumbuh menjadi remaja yang baik di bawah didikan Nabi Muhammad. Nabi Muhammad senantiasa memberi perhatian dan kasih sayangnya kepada Ali.

3.      ALI BIN ABU THALIB MASUK ISLAM
Ali dibesarkan di rumah Nabi Muhammad. Walaupun masa kecil Ali bersama Nabi Muhammad sebelum menjadi nabi, namun didikan Muhammad kepada kemenakannya itu sungguh baik dan sudah mencerminkan perilaku islami. Muhammad mengajarkan untuk senantiasa berbuat baik. Misalnya Muhammad mencontohkan sikap jujur dan bertanggung jawab, selalu berkata benar ( shiddiq ), tak pernah berbohong, suka bersilaturrahmi, suka menolong sesama mereka, memuliakan tamu, mendukung usaha-usaha yang mulia, mengasihi yang kecil dan menghormati yang lebih besar dan masih banyak sifat baik lainnya. Ahli sejarah sepakat mengatakan, bahwa Nabi Muhammad sejak kecil ia tidak pernah terbawa atau tergoda untuk menyembah berhala. Allah senantiasa menjaga Nabi Muhammad  sejak sebelum menjadi nabi. Setelah menerima wahyu pertama, Nabi Muhammad menyeru kepada keluarganya untuk memeluk Islam. Siti Khadijah yang senantiasa mendukung perjuangan Nabi, tentu saja menjadi pemeluk Islam pertama. Kemudian Zaid, anak angkat Nabi Muhammad yang senantiasa mengantar makanan kepada Nabi Muhammad semasa berkhalawat di Gua Hira.
Ali menyaksikan dengan seksama ketika Nabi Muhammad dan Siti Khadijah melaksanakan shalat. Ali memperhatikannya dengan heran. Setelah Nabi Muhammad dan Siti Khadijah selesai shalat. Ali menanyakan atas apa yang baru saja ia lihat. Dengan keberania Ali tersebut, maka Rasulullah  mengajaknya untuk masuk Islam. Rasulullah menerangkan kepada Ali  : “ Ini adalah agama Allah yang di ridhoi-Nya dan telah di utus rasul-rasul sebelum ku untuk menyampaikannya. Aku mengajakmu untuk beriman kepada Allah Yang Maha Esa, yang tidak ada sekutu bagi-Nya dan sekaligus menyembah-Nya dan ingkarilah Latta dan Uzza”. Kemudian Ali yang  masih kecil itu menjawab : “ Apa yang anda katakan itu adalah suatu yang benar, karenanya sebelum aku mengambil keputusan, akan aku rundingkan dahulu dengan ayahku”. Mendengar jawaban dari ali yang sedemikian polosnya, Nabi berkata : “Wahai Ali jika kamu belum masuk Islam, sebaiknya dirahasiakan saja berita ini”.
Malam hari setelah kejadian tersebut, Ali mendapat petunjuk dari Allah SWT. Pagi harinya ia siap menyatakan diri untuk masuk islam. Ali bertanya kepada Rasulullah : “Wahai Rasulullah, bagaimanakah cara aku  untuk masuk Islam ?”. Rasulullah menjawab : “Ikrarkan, bahwa tidak ada tuhan selain Allah, tak ada sekutu baginya sekaligus kamu lepaskan kepercayaan kepada semua berhala !”. dengan mengucapkan ikrar sebagaimana yang disuruh Nabi Muhammad, maka resmilah Ali bin Abu Thalib memeluk Islam.

4.      PERAN ALI BIN ABU THALIB SETELAH MASUK ISLAM
Ali termasuk anak yang cerdas dan berani. Dengan kedua sifatnya itu, walau masih dalam usia anak-anak, ia senantiasa membela Islam dan Nabi. Setelah turun wahyu surah Asy-Syu’ara : 214 , yang artinya : “dan berilah peringatan kepada kaum kerabat terdekat ( QS. Asy-Syu’ara : 214 )
Kemudian Rasulullah meminta Ali untuk mendampinginya dalam suatu perjamuan. Nabi mengundang semua kaum kerabatnya. Nabi menjamu mereka dengan sopan dan makan yang cukup. Kemudian Nabi hendak berbicara, namun Abu Lahab tiba-tiba menyela pembicaraan Nabi. Abu Lahab menyuruh para hadirin tersebut untuk bubar. Maka undangan pun bubar. Rasulullah tetap sabar dan tidak putus asa.
Di hari lain Rasulullah mengundang mereka kembali. Ali diminta Bantuannya untuk membantu menyiapkan hidangan. Setelah menikmati hidangan, Rasulullah menyampaikan dakwah kepada hadirin, yang terdiri dari kaum kerabat beliau. Isi dakwah Rasulullah kurang lebih sebagai berikut, “ Saya tidak tahu kalau ada seorang dari bangsa Arab yang membawkan pada kaumnya sesuatu yang lebih baik daripada yang saya bawakan kepada Anda. Saya membawakan kepada Anda satu kebaikan guna kebaikan anda di dunia dan di akhirat. Saya diperintahkan Tuhanku mengajak Anda kepada-Nya. Siapakah yang di antara anda yang mau menolongku dalam pekerjaan ini ?”.
            Mendengar ajakan rasulullah tersebut, mereka saling memandang dan bahkan ada yang hendak segera meninggalkan tempat pertemuan tersebut. Saat itulah, Ali yang masih muda belia itu bangkit dan berucap, “ Saya wahai Rasulullah, saya siap menjadi penolongmu yang setia, saya berjanji akan memerangi orang yang kau perangi”. Mendengar keberanian Ali tersebut, banyak hadirin yang senyum menyindir. Terutama senyum sindiran itu kepada Abu thalib, ayah Ali. Kemudian pertemuan pun bubar.
a.       Keberanian Ali bin Abu Thalib dalam menyatakan sikap
Setiap kali datang waktu shalat, Nabi Muhammad dan Siti Khadijah, bahkan terkadang bersama Ali datang ke suatu tempat yang terpencil untuk melaksanakan shalat.  Suatu ketika, kegiatan itu diketahui oleh Abu Thalib , ayah Ali. Beliau bertanya kepada Ali : “Wahai Ali, agama apa yang kau peluk itu ?”. Kemudian Ali menjawab pertanyaan ayahnya itu dengan sopan dan berani : “Ayahku, sesungguhnya aku telah beriman kepada Allah dan rasul-Nya dan aku pun meyakini sepenuhnya segala apa yang disampaikannya, aku pun telah shalat bersamanya dan menaati semua perintahnya”. Mendengar  kemantapan jawaban putranya, kemudian Abu thalib berkata : “Sesungguhnya dia telah mengajakmu kepada kebaiakan, karena itu berpegang teguhlah kepadanya”.
b.      Keberanian Ali menghadapi kaum kafir Quraisy
Rasulullah mengadakan pengajian sebagai bahan komunikasi  dan memantapkan keimanan serta berdakwah di rumah Al Arqam bin Abil Arqam. Rumah tersebut yang di kenal dengan Daarul Arqam , yang terletak di bukit Shafa. Masyarakat mekkah dan sekitarnya ingin  datang ke sana dan ingin bertemu dengan Rasulullah, senantriasa dihadang oleh kaum kafir Quraisy. Hal ini sering diperhatikan oleh Ali bin Abu thalib. Kemudian dengan keimanan serta keberanaiannya, ia sering mengantar orang -orang tersebut untuk bertemu Rasulullah.
Contoh lain adalah yang di alami oleh Abu Dzar Al Ghifari. Ia mendengar tentang kerasulan Muhammad. Walaupun jarak tempat tinggalnya  sangat jauh dengan Mekkah, namun keinginannya untuk bertemu dengan Rasulullah membuatnya bertekad datang ke Mekkah. Sesampainya di Mekkah, Abu Dzar Al Ghifari menghampiri suatu tempat yang ramai di kunjungi orang. Tempat tersebut adalah Ka’bah. Namun demikian ia tidak mau bertanya. Ia takut disesatkan. Sudah dua malam Abu Dzar menginap di sekitar  Ka’bah, tapi ia belum juga berani untuk bertanya. Dimalam ketiga datanglah Ali bin Abu Thalib. Ia menanyakan hal kedatangan Abu Dzar tersebut. Selesai mendapat jawaban dari Abu Dzar Al Ghifari, maka dengan senang hati Ali mengantarkannya kepada Rasulullah. Setelah bertemu Rasulullah dan bertukar fikiran, maka Abu Dzar Al Ghifari menyatakan dirinya untuk masuk Islam.

5.      PROSES PENGANGKATAN KHALIFAH ALI BIN ABI THALIB
Pengukuhan Ali menjadi khalifah tidak semulus pengukuhan tiga orang khalifah sebelumnya. Ali dibai’at di tengah-tengah suasana berkabung atas meninggalnya Utsman bin Affan, pertentangan dan kekacauan , serta kebingungan umat Islam Madinah. Sebab, kaum pemberontak yang membunuh Utsman mendaulat Ali agar bersedia dibai’at menjadi khalifah. Setelah Utsman terbunuh, kaum pemberontak mendatangi para sahabat senior satu per satu yang ada di kota Madinah, seperti Ali bin Abi Thalib, Thalhah, Zubair, Saad bin Abi Waqqash, dan Abdullah bin Umar bin Khaththab agar bersedia menjadi khalifah, namun mereka menolak. Akan tetapi, baik kaum pemberontak maupun kaum Anshar dan Muhajirin lebih menginginkan Ali menjadi khalifah. Ali didatangi beberapa kali oleh kelompok-kelompok tersebut agar bersedia dibai’at menjadi khalifah. Namun, Ali menolak. Sebab, Ali menghendaki agar urusan itu diselesaikan melalui musyawarah dan mendapat persetujuan dari sahabat-sahabat senior terkemuka. Akan tetapi, setelah massa mengemukakan bahwa umat Islam perlu segera mempunyai pemimpin agar tidak terjadi kekacauan yang lebih besar, akhirnya Ali bersedia dibai’at menjadi khalifah.
Ali dibai’at oleh mayoritas rakyat dari Muhajirin dan Anshar serta para tokoh sahabat, seperti Thalhah dan Zubair, tetapi ada beberapa orang sahabat senior, seperti Abdullah bin Umar bin Khaththab, Muhammad bin Maslamah, Saad bin Abi Waqqash, Hasan bin Tsabit, dan Abdullah bin Salam yang waktu itu berada di Madinah tidak mau ikut membai’at Ali. Abdullah dan Saad misalnya bersedia membai’at kalau seluruh rakyat sudah membai’at. Mengenai Thalhah dan Zubair, mereka membai’at secara terpaksa. Mereka bersedia membai’at jika nanti mereka diangkat menjadi gubernur di Kufah dan Bashrah.
Dengan demikian, Ali tidak dibai’at oleh kaum muslimin secara aklamasi karena banyak sahabat senior ketika itu tidak barada di kota Madinah, mereka tersebar di wilayah-wilayah taklukan baru, dan wilayah Islam sudah meluas ke luar kota Madinah sehingga umat Islam tidak hanya berada di tanah Hejaz (Mekkah, Madinah, dan Thaif), tetapi sudah tersebar Jazirah Arab dan di luarnya. Salah seorang tokoh yang menolak untuk membai’at Ali dan menunjukkan sikap konfrontatif adalah Mu’awiyah bin Abi Sufyan, keluarga Utsman dan Gubernur Syam. Alasan yang dikemukakan karena menurutnya Ali tidak bertanggung jawab dan tidak menindaklanjuti pencarian pelaku atas pembunuhan Utsman tetapi malah mengutamakan pemerintahannya.
Pada hari Jum’at di Masjid Nabawi, mereka melakukan pembai’atan.Setelah pelantikan selesai, Ali menyampaikan pidato visi politiknya dalam suasana yang kurang tenang di Masjid Nabawi. Setelah memuji dan mengagungkan Allah, selanjutnya Ali berkata:“Sesungguhnya Allah telah menurunkan Kitab sebagai petunjuk yang menjelaskan kebaikan dan keburukan. Maka ambillah yang baik dan tinggalkan yang buruk. Allah telah menetapkan segala kewajiban, kerjakanlah! Maka Allah menuntunmu ke surga. Sesungguhnya Allah telah mengharamkan hal-hal yang haram dengan jelas, memuliakan kehormatan orang muslim dari pada yang lainnya, menekankan keikhlasan dan tauhid sebagai hak muslim. Seorang muslim adalah yang dapat menjaga keselamatan muslim lainnya dari ucapan dan tangannya. Tidak halal darah seorang muslim kecuali dengan alasan yang dibenarkan. Bersegeralah membenahi kepentingan umum, bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya kamu dimintai pertanggungjawaban tentang apa saja, dari sejengkal tanah hingga binatang ternak. Taatlah kepada Allah jangan mendurhakai-Nya. Bila melihat kebaikan ambillah, dan bila melihat keburukan tinggalkanlah.”
“Wahai manusia, kamu telah membai’at saya sebagaimana yang kamu telah lakukan terhadap khalifah-khalifah yang dulu daripada saya. Saya hanya boleh menolak sebelum jatuh pilihan. Akan tetapi, jika pilihan telah jatuh, penolakan tidak boleh lagi. Imam harus kuat, teguh, dan rakyat harus tunduk dan patuh. Bai’at terhadap diri saya ini adalah bai’at yang merata dan umum. Barang siapa yang mungkir darinya, terpisahlah dia dari  agama Islam.”

6.      KONDISI PERPOLITIKAN
Ada banyak peperangan yang terjadi di masa Ali, di antaranya:
a.       Perang Jamal / Perang Unta
Selama masa pemerintahannya, Ali menghadapi berbagai pergolakan, tidak ada sedikitpun dalam pemerintahannya yang dikatakan stabil. Setelah menduduki Khalifah, Ali memecat gubernur yang diangkat oleh Utsman. Ali yakin bahwa pemberontakan-pemberontakan yang terjadi karena keteledoran mereka. Selain itu Ali juga menarik kembali tanah yang dihadiahkan oleh Utsman kepada penduduk dengan menyerahkan hasil pendapatannya kepada negara. Dan mememakai kembali sistem distrtibusi pajak tahunan diantara orang-orang Islam. Sebagaimana pernah diterapkan oleh Khalifah Umar bin Khatthab. Menyikapi berbagai kebijakan dan masalah-masalah yang dihadapi Ali, kemudian pemerintahannya digoncangkan oleh pemberontakan-pemberontakan. Diantaranya adalah pemberontakan yang dipimpin oleh Mu’awiyah bin Abi Sufyan yang merupakan keluarga Utsman sendiri dengan alas an Ali harus bertanggung jawab atas terbunuhnya Khalifah Ustman dan Wilayah Islam telah meluas dan timbul komunitas-komunitas Islam di daerah-daerah baru.
Oleh karena itu hak untuk menentukan pengisian jabatan tidak lagi merupakan hak pemimpin yang berada di Madinah saja. Namun, karena situasi politik yang gawat pada waktu itu sehingga permintaan mereka merupakan tuntutan yang tidak mungkin dipenuhi dalam waktu dekat. Suasana politik pada saat itu memanas dikarenakan adanya rongrongan dari berbagai pihak, terutama pihak-pihak yang tidak menyetujui dan tidak mengakui Ali menjabat sebagai khalifah keempat. Melihat keadaan sedemikian rumit, maka hal pertama yang memerlukan penanganan serius yang dilakukan Ali adalah memulihkan, mengatur, dan menguatkan kembali posisinya sebagai khalifah dan berusaha mengatasi segala kekacauan yang terjadi. Setelah itu baru melakukan pengusutan atas pembunuhan Utsman. Namun, sejak tahun 35 H/656 M, tahun pengangkatan Ali sebagai khalifah sampai tahun 36 H/657 M, Ali tidak juga memperlihatkan sikap yang pasti untuk menegakkan hukum syariat Islam terhadap para pembunuh Utsman. Sehingga Aisyah bergabung dengan Thalhah dan Zubair menggerakkan kabilah-kabilah Arab untuk menuntut balas atas kematian Utsman. Setelah dirasa mempunyai kekuatan yang besar, Aisyah dan pasukannya memutuskan menyerang pasukan Ali di Kufah, yang sebetulnya pasukan Ali dipersiapkan untuk menghadapi tantangan Mu’awiyah bin Abi Sufyan di Syiria. Ali sebenarnya ingin menghindari peperangan. Beliau mengirim surat kepada Thalhah dan Zubair agar mereka mau berunding untuk menyelesaikan perkara itu secara damai. Namun, ajakan tersebut ditolak. Akhirnya pertempuran dahsyat antara keduanya pecah, yang selanjutnya dikenal dengan “Perang Jamal”. Pertempuran tersebut dipimpin oleh Aisyah, Thalhah, dan Zubair. Pertempuran inilah yang terjadi pertama kali diantara kaum muslimin. Dan yang memperoleh kemenangan pada perang jamal adalah pasukan Ali, karena pasukan Ali lebih berpengalaman dibanding pasukan Aisyah. Walaupun pasukan Aisyah mengalami kekalahan, Aisyah tetap dihormati oleh Ali dan pengikutnya sebagai Ummul Mu’minin.
Bahkan setelah pertempuran usai, Khalifah Ali mendirikan perkemahan khusus untuk Aisyah. Dan keesokan harinya Aisyah dipersilahkan pulang kembali ke Madinah yang dikawal oleh saudaranya sendiri, Muhammad bin Abi Bakar. Demikianlah sejarah terjadinya perang jamal yang merupakan perang pertama antara sesama umat Islam dalam sejarah Islam.
b.      Perang Shiffin
Kebijaksanaan-kebijaksanaan yang dilakukan Ali mengakibatkan perlawanan dariGubernur di Damaskus, Mu’awiyah, yang didukung oleh sejumlah bekas pejabat tinggiyang merasa kehilangan kedudukan dan kejayaan. Selain itu, Mu’awiyah, GubernurDamaskus dan keluarga dekat Utsman, seperti halnya Aisyah, mereka menuntut agar Alimengadili pembunuh Utsman. Bahkan mereka menuduh Ali turut campur dalampembunuhan Utsman. Selain itu mereka tidak mengakui kekhalifahan Ali.Hal ini bisa dilihat dari situasi kota Damaskus pada saat itu. Mereka menggantungjubah Utsman yang berlumuran darah bersama potongan jari janda almarhum dimimbarmasjid. Sehingga hal itu menjadi tontonan bagi rombongan yang berkunjung. Denganadanya peristiwa tersebut, pihak umum berpendapat bahwa Ali yang bertanggungjawab atas pembunuhan Utsman.Pada akhir Dzulhijjah 36 H/657 M, khalifah Ali dengan pasukan gabungan menuju keSyiria utara. Dalam perjalanannya mereka menyusuri arus sungai Euprate, namun arussungai tersebut telah dikuasai oleh pihak Mu’awiyah dan pihak Mu’awiyah tidakmengijinkan pihak Ali memakai air sungai tersebut. Awalnya Ali mengirim utusanpada Mu’awiyah agar arus sungai bisa digunakan oleh kedua pihak, namun Mu’awiyahmenolak. Akhirnya Ali mengirim tentaranya dibawah pimpinan panglima Asytar al-Nahki dan dia berhasil merebut arus sungai tersebut. Meskipun sungai tersebut dikuasaipihak Ali, mereka ini tetap mengijinkan tentara Mu’awiyah memenuhi kebutuhan airnya.
Setelah sengketa tersebut selesai maka pihak Ali mendirikan garis pertahanandidataran Shiffin, dan Ali masih berharap dapat mencapai penyelesaian dengan caradamai. Ali mengirim utusan dibawah pimpinan panglima Basyir bin Amru untukmelangsungkan perundingan dengan pihak Mu’awiyah. Pada bulan Muharram 37 H/658 Mmereka mencapai persetujuan yakni menghentikan perundingan untuk sementara danmasing-masing pihak akan memberi jawaban pada akhir bulan Muharram.Sebenarnya hal ini sangat merugikan Ali karena akan mengurangi semangattempur tentaranya dan pihak lawan bisa memperbesar kekuatannya. Namun sebagaikhalifah, Ali terikat oleh ketetapan firman Allah surat al-Hujurat ayat 9 dan surat an-Nisa’ ayat59. Dengan mengenali prinsip-prinsip hukum Islam itu maka dapat dipahami mengapakhalifah Ali menempuh jalan damai dahulu.Jawaban terakhir dari pihak Mu’awiyah menolak untuk mengangkat bai’at Ali dansebaliknya menuntut Ali mengangkat bai’at terhadap dirinya. Maka bulan Saffar 37H/685M terjadilah perang siffin dengan kekuatan 95.000 orang dari pihak Ali dan 85.000 orangdari pihak Mu’awiyah. Pada saat perang, Imar bin Yasir (orang pertama yang masuk Islamdi kota Mekkah) tewas. Tewasnya tokoh yang sangat dikultuskan ini membangkitkansemangat tempur yang tak terkirakan pada pihak pasukan Ali, sehingga banyak korbanpada pihak Mu’awiyah dan panglima Asytar al-Nahki berhasil menebas pemegang panji-panjiperang pihak Mu’awiyah dan merebutnya. Bila panji perang jatuh pada pihak lawanmaka akan melumpuhkan semangat tempur. Pada saat terdesak itulah pihak Mu’awiyah,Amru bin Ash memerintahkan mengangkat al-mushaf pada ujung tombak dan berserumarilah kita bertahkim kepada kitabullah. Namun pada saat itu Alimemerintahkan untuk tetap berperang karena beliau tahu itu hanya tipu muslihat musuh.Tapi sebagian besar tentaranya berhenti berperang dan berkata jikalau mereka telahmeminta bertahkim kepada kitabullah apakah pantas untuk tidak menerimanya, bahkandiantara panglima pasukannya Mus’ar bin Fuka al Tamimi mengancam: “Hai Ali, mariberserah kepada kitabullah jikalau anda menolak maka kami akan berbuat terhadap andaseperti apa yang kami perbuat pada Usman.”Akhirnya Ali terpaksa tunduk karena beliau menghadapi orang-orang sendiri.Sejarah mencatat korban yang tewas dalam perang ini 35.000 orang dari pihak Ali dan45.000 orang dari pihak Mu’awiyah.Peperangan ini diakhiri dengan takhkim (arbitrase).Akan tetapi hal itu tidak dapatmenyelesaikan masalah, bahkan menyebabkan terpecahnya umat Islam menjadi tigagolongan. Diantara ketiga golongan itu adalah golongan Ali, pengikutMu’awiyah dan Khawarij (orang-orang yang keluar dari golongan Ali). Akibatnya, diujungmasa pemerintahan Ali, umat Islam terpecah menjadi tiga kekuatan politik.
c.       Perang Nahrawan
Setelah terjadi tahkimsebagian tentara Ali tidak terima dengan sikap Ali yangmenerima arbitrase karena itulah mereka keluar dari pihak Ali yang selanjutnya dikenaldengan nama Khawarij. Pihak Khawarij berkesimpulan bahwa:
·         Mu’awiyah dan Amru bin Ash beserta pengikutnya adalah kelompok kufur karenatelah mempermainkan nama Allah dan kitab Allah dalam perang Shiffin, maka mereka wajib dibasmi.
·         Ali dan pihak-pihak yang mendukung terbentuknya majlis tahkim adalah raguterhadap kebenaran yang telah diperjuangkan , padahal banyak korban yang jatuhuntuk membelanya. Untuk itu Ali telah melakukan dosa besar.
·         Dan yang membenarkan pembentukan majlis tahkim adalah mengembangkan bid’ahdan membasmi kaum bid’ah adalah kewajiban setiap Muslim.
Pemuka kelompok ini adalah Abdullah bin Wahhab al Rasibi. SebenarnyaAlitidak ingin memerangi kelompok Khawarij tapi karena kelompok ini keterlaluan dalambersikap diantaranya membunuh keluarga shahabat Abdullah bin Wahhab dengansadis sekali hanya karena menolak untuk menyatakan keempat khalifah sepeningggalNabi adalah kufur, selain itu mereka juga membunuh utusan yang diutus oleh Ali.
Ali menggerakkan pasukannya dan kedua pasukan bertemu pada suatutempat bernama Nahrawan, terletak dipinggir sungai tigris (al Dajlah). Sebelum perang diumumkan, Ali masih punya harapan untuk menyadarkankaum Khawarij. Dan Ali memberikan amnesti bersyarat yang berbunyi: “Barang siapapulang kembali ke Kufah, akan memperoleh jaminan keamanan.”Sejarah mencatat setelahitu 500 orang diantara mereka ber-iktijalsebagian pulang ke Kufah dan sebagian lagipindah ke pihak Ali sehingga kelompok Khawarij tinggal 1.800 orang.Dengan begitu pecahlah perang Nahrawan, korban berjatuhan dari pihak Ali karenakeberanian kelompok Khawarij sangatlah terkenal, walaupun demikian kemenanganberada dipihak Ali dan tokoh/pemuka Khawarij, Mus’ar al Tamimi, Abdullah bin Wahhabtewas dalam peperangan ini.Golongan Khawarij ( orang-orang yang keluar dari barisan Ali bin Abi Thalib) yangbermarkas di Nahrawain benar-benar merepotkan Ali sehingga memberikan kesempatanpada pihak Mu’awayah untuk memperkuat dan memperluas kekuasannya sampai mampumerebut Mesir. Akibatnya sangat fatal pada pihak Ali. Tentara Ali semakin lemah,sementara kekuatan Mua’wiyah bertambah besar, keberhasilan Mu’awiyah mengambilposisi Mesir berarti merampas sumber-sumber kemakmuran dan suplai ekonomi dari pihakAli.
d.      Perang Badar Kubra ( Tahun ke-2 H )
Beberapa saat setelah Ali menikah, pecahlah perang Badar, perang pertama dalam sejarah Islam. Perang ini berawal dari perang tanding. Dari pihak Quraisy tampil 3 orang, yaitu Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah, dan Al Walid bin Utbah. Dari pihak kaum muslimin Rasulullah memerintahkan, yaitu Hamzah, Ali, dan Ubaidillah bin Harits. Di sini Ali betul-betul menjadi pahlawan disamping Hamzah, paman Nabi. Hamzah bertarung melawan Syaibah, yang dimenangkan oleh Hamzah, Ali bertarung melawan Al Walid, yang juga dimenangkan oleh Ali. Adapun Ubaidillah yang melawan Utbah, saling melukai. Kemudian Ali dan Hamzah segera membantunya, maka Utbah pun tewas. Ubaidah banyak mengeluarkan darah, sehingga ia pun wafat. Banyaknya Quraisy Mekkah yang tewas ditangan Ali masih dalam perselisihan, tapi semua sepakat beliau menjadi bintang lapangan dalam usia yang masih sangat muda sekitar 25 tahun.
e.       Perang Khandaq
Perang Khandaq juga menjadi saksi nyata keberanian Ali bin Abi Thalib ketika memerangi Amar bin Abdi Wudd. Amru dikenal keperkasaannya dan mendapat si seribu orang ksatria. Tetapi dengan satu tebasan pedang Ali yang bernama Dzulfikar, Amar bin Abdi Wud terbelah menjadi dua bagian.
f.       Perang Khaibar
Setelah Perjanjian Hudaibiyah yang memuat perjanjian perdamaian antara kaum Muslimin dengan Yahudi, dikemudian hari Yahudi mengkhianati perjanjian tersebut sehingga pecah perang melawan Yahudi yang bertahan di Benteng Khaibar yang sangat kokoh, biasa disebut dengan perang Khaibar. Di saat para sahabat tidak mampu membuka benteng Khaibar, Nabi SAW bersabda: “Besok, akan aku serahkan bendera kepada seseorang yang tidak akan melarikan diri, dia akan menyerang berulang-ulang dan Allah akan mengaruniakan kemenangan baginya. Allah dan Rasul-Nya mencintainya dan dia mencintai Allah dan Rasul-Nya.” Maka, seluruh sahabat pun berangan-angan untuk mendapatkan kemuliaan tersebut. Namun, ternyata Ali bin Abi Thalib yang mendapat kehormatan itu serta mampu menghancurkan benteng Khaibar dan berhasil membunuh seorang prajurit musuh yang berani bernama Marhab lalu menebasnya dengan sekali pukul hingga terbelah menjadi dua bagian.
Dan masih banyak lagi peperangan lainnya yang Ali ikuti keculai Perang Tabuk, karena pada saat itu Ali mewakili Rasulullah untuk menjaga kota Madinah.

g.      Sistem Ekonomi dan Fiskal
Masa pemerintahan Khlifah Ali bin Abi Thalib yang hanya berlangsung selama enam tahun selalu diwarnai dengan ketidakstabilan kehidupan politik. Ali harus menghadapi pemberontakan Thalhah, Zubair, dan Aisyah yang menuntut kematian Utsman bin Affan.Sekalipun demikian, Khalifah Ali bin Abi Thalib tetap berusaha untuk melaksanakan berbagai kebijakan yang dapat mendorong peningkatan kesejahteraan umat Islam.Pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib, prinsip utama dari pemerataan distribusi uang rakyat telah diperkenalkan. Sistem distribusi setiap pekan sekali untuk pertama kalinya diadopsi. Hari Kamis adalah hari pendistribusian atau hari pembayaran. Pada hari itu, semua penghitungan diselesaikan dan pada hari Sabtu dimulai penghitungan baru.
Cara ini mungkin solusi yang terbaik dari sudut pandang hukum dan kondisi negara yang sedang berada dalam masa-masa transisi. Khalifah Ali meningkatkan tunjangan bagi para pengikutnya di Irak.Khalifah Ali memiliki konsep yang jelas tentang pemerintahan, administrasi umum dan masalah-masalah yang berkaitan dengannya. Konsep ini dijelaskan dalam suratnya yang terkenal yang ditujukan kepada Malik Ashter bin Harits. Surat yang panjang tersebut antara lain mendeskripsikan tugas, kewajiban serta tanggung jawab para penguasa dalam mengatur berbagai prioritas pelaksanaan dispensasi keadilan serta pengawasan terhadap para pejabat tinggi dan staf-stafnya, menjelaskan kelebihan dan kekurangan para jaksa, hakim, dan abdi hukum lainnya.
h.      Kondisi Kebudayaan
Perkembangan yang ada pada masa Ali adalah:
·         Terciptanya ilmu bahasa/nahwu (Aqidah Nahwiyah)
·         Berkembangnya ilmu Khat al-Qur’an
·         Berkembangnya Sastra.
i.        Kaum Syi’ah (pengikut Ali)
Muslim Syi’ah percaya bahwa keluarga Muhammad (yaitu para Imam Syi’ah) adalah sumber pengetahuan terbaik tentang al-Qur’an dan Islam, guru terbaik tentang Islam setelah Nabi Muhammad, dan pembawa serta penjaga terpercaya dari tradisi Sunnah.Secara khusus, Muslim Syi’ah berpendapat bahwa Ali bin Abi Thalib, yaitu sepupu danmenantu Muhammad dan kepala keluarga Ahlul Bait, adalah penerus kekhalifahan setelah Nabi Muhammad, yang berbeda dengan khalifah lainnya yang diakui oleh Muslim Sunni. Muslim Syi’ah percaya bahwa Ali dipilih melalui perintah langsung oleh Nabi Muhammad, dan perintah Nabi berarti wahyu dari Allah.Perbedaan antara pengikut Ahlul Bait dan Abu Bakar menjadikan perbedaan pandangan yang tajam antara Syi’ah dan Sunni dalam penafsiran Al-Qur’an, Hadits, mengenai Sahabat, dan hal-hal lainnya. Sebagai contoh perawiHadits dari Muslim Syi’ah berpusat pada perawi dari Ahlul Bait, sementara yang lainnya seperti Abu Hurairah tidak dipergunakan.Tanpa memperhatikan perbedaan tentang khalifah, Syi’ah mengakui otoritas Imam Syi’ah (juga dikenal dengan Khalifah Illahi) sebagai pemegang otoritas agama, walaupun sekte-sekte dalam Syi’ah berbeda dalam siapa pengganti para Imam dan Imam saat ini.

7.      KEBIJAKAN DAN KEPEMIMPINAN ALI BIN ABI THOLIB
a.       Mengganti para gubernur
Semua gubernur yang diangkat oleh kholifah Utsman bin Affan harus diganti oleh kholifah Ali, karena banyak masyarakat yang tidak senang. Karena menurut pengamatannya, para gubernur inilah yang menyebabkan timbulnya banyak pemberontakan terhadap pemerintahan Utsman Bin Affan.
Adapun beberapa gubernur yang dig anti adalah :
1)      Gubernur  Syiria diganti oleh Sahl Bin Hanif
2)      Gubernur Basroh diganti oleh Utsman Bin Hanif
3)      Gubernur Mesir diganti oleh Qa’is Bin Sa’ad
4)      Gubernur Kufah diganti oleh Umrah Bin Syihab
5)      Gubernur Yaman diganti oleh Ubaidah Bin Abbas

b.      Menarik kembali tanah milik Negara
Pada masa pemerintahan Utsman Bin Affan banyak para kerabatnya yang diberikan fasilitas dalam berbagai bidang. Sehingga banyak diantara mereka yang kemudian merongrong pemerintahan Utsman Bin Affan dan harta kekeayaan mereka. Untuk itulah Ali merasa sangat perlu untuk menarik kembali semua tanah pemberian Utsman kepada kepada keluarganya, menjadii miik Negara.
c.       Perbaikan bidang ilmu bahasa
Ali berfikir bahwa kesulitan masyarakat muslim untuk membaca Al-Qur’an dan Hadits menjadi kendala dalam memahami ajaran Islam. Sangat perlu adanya perbaikan bacaan masyarakat muslim non Arab dalammempelajari ajaran Islam yang kebanyakan berbahasa Arab. Untuk itulah beliau memerintahkan kepada Abul Aswad Ad-Duali menyusun pokok ilmu Nahwu (Qo’idah Nahwiyah). Dengan adanya  pedoman dasar bacaan tersebut memudahkan masyarakat muslim yang non Arab untuk mempelajariajaran Islam.                        

8.      WAFATNYA KHALIFAH ALI BIN ABI THALIB
Ali wafat di usia 63 tahun karena pembunuhan oleh Abdurrahman bin Muljam, seseorang yang berasal dari golongan Khawarij(pembangkang) saat mengimami shalat subuh di masjid Kufah, pada tanggal 19 Ramadhan, dan Ali menghembuskan nafas terakhirnya pada tanggal 21 Ramadhan tahun 40 Hijriyah, Ali dikuburkan secara rahasia di Najaf.


KESIMPULAN


Proses pengangkatan khalifah Utsman bin Afan dilakukan melalui pemilihan melalui pembentukan tim formatur yang dibentuk oleh pendahulunya, khalifah Umar ibn Khatab. Sedangkan proses pengangkatan Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah dilakukan dengan cara dibaiat oleh umat Islam secara langsung.
Kebijakan yang dikeluarkan oleh khalifah Utsman bin Affan dimulai dengan perluasan wilayah Islam, perluasan masjidil haran dan nabawi, penyeragaman penulisan mushaf al-Quran. Akan tetapi karena kebijakan yang diambilnya cenderung mengedepankan keluarga, maka khalifah Utsman pada akhirnya tidak didukung masyarakat, dan berakhir tragis, yakni wafat dengan jalan dibunuh.
Adapun pada masa khalifah Ali bin Abi Thalib tidak ada kebijakan khalifah yang strategis, hal ini disebabkan pada masa pemerintahannya tidak ada sedikitpun masa pemerintahan yang stabil. Sehingga menimbulkan peperangan, seperti perang jamal dan perang shiffin. Khalifah Ali pun berakhir dengan tragis ia wafat dengan cara dibunuh oleh kelompok khowarij ketika sedang melaksanakan shalat subuh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar