A. Pengertian Kelompok Sosial
Secara sosiologis pengertian kelompok sosial adalah suatu
kumpulan orang-orang yang mempunyai hubungan dan saling berinteraksi satu sama
lain dan dapat mengakibatkan tumbuhnya perasaan bersama.
B. Ciri-ciri
Kelompok Sosial
- Setiap individu harus
merupakan bagian dari kesatuan sosial,
- Terdapat hubungan timbal
balik di antara individu-individu yang tergabung dalam kelompok,
- Adanya faktor-faktor yang
sama dan dapat mempererat hubungan mereka yang tergabung dalam kelompok,
- Berstruktur, berkaidah,
serta mempunyai pola perilaku,
- Bersistem dan berproses.
C. Syarat
Terbentuknya Kelompok Sosial
- Setiap anggota kelompok
memiliki kesadaran bahwa dia merupakan bagian dari kelompok yang
bersangkutan.
- Ada kesamaan faktor yang
dimiliki anggota-anggota kelompok itu sehingga hubungan antara mereka
bartambah erat. Faktor-faktor kesamaan tersebut, antara lain
- Persamaan nasib, Persamaan
kepentingan, Persamaan tujuan, Persamaan ideologi politik, dan Persamaan
musuh
D. Kelompok Sosial
Yang Teratur
1. Klasifikasi
Tipe-tipe Kelompok Sosial
Menurut Soerjono Soekanto dapat diklasifikasikan menjadi
beberapa macam, yaitu:
- Berdasarkan besar kecilnya
anggota kelompok
Menurut George Simmel, besar kecilnya jumlah anggota
kelompok akan memengaruhi kelompok dan pola interaksi sosial dalam kelompok
tersebut.
- Berdasarkan derajat
interaksi dalam kelompok
Derajat interaksi ini juga dapat dilihat pada beberapa
kelompok sosial yang berbeda. Kelompok sosial seperti keluarga, rukun tetangga,
masyarakat desa, akan mempunyai kelompok yang anggotanya saling mengenal dengan
baik (face-to-face groupings). Hal ini berbeda dengan kelompok sosial seperti
masyarakat kota, perusahaan, atau negara, di mana anggota-anggotanya tidak
mempunyai hubungan erat.
- Berdasarkan kepentingan
dan wilayah
Sebuah masyarakat setempat (community) merupakan suatu
kelompok sosial atas dasar wilayah yang tidak mempunyai kepentingan-kepentingan
tertentu. Sedangkan asosiasi (association) adalah sebuah kelompok sosial yang
dibentuk untuk memenuhi kepentingan tertentu.
- Berdasarkan kelangsungan
kepentingan
Adanya kepentingan bersama merupakan salah satu faktor yang
menyebabkan terbentuknya sebuah kelompok sosial. Namun, sebuah asosiasi
mempunyai kepentingan yang tetap.
- Berdasarkan derajat
organisasi
Kelompok sosial terdiri atas kelompok-kelompok sosial yang
terorganisasi dengan rapi seperti negara, TNI, perusahaan dan sebagainya.
Namun, ada kelompok sosial yang hampir tidak terorganisasi dengan baik, seperti
kerumunan.
Secara umum tipe-tipe kelompok sosial adalah sebagai
berikut.
1)
Kategori statistik, yaitu pengelompokan atas dasar ciri
tertentu yang sama, misalnya kelompok umur.
2)
Kategori sosial, yaitu kelompok individu yang sadar
akan ciri-ciri yang dimiliki bersama, misalnya HMI (Himpunan Mahasiswa Islam
Indonesia).
3)
Kelompok sosial, misalnya keluarga batih (nuclear
family)
4)
Kelompok tidak teratur, yaitu perkumpulan orang-orang
di suatu tempat pada waktu yang sama karena adanya pusat perhatian yang sama.
Misalnya, orang yang sedang menonton sepak bola.
5)
Organisasi Formal, yaitu kelompok yang sengaja dibentuk
untuk mencapai tujuan tertentu yang telah ditentukan terlebih dahulu, misalnya
perusahaan.
2. Kelompok Sosial
dipandang dari Sudut Individu
Terbentuknya kelompok-kelompok sosial ini biasanya didasari
oleh kekerabatan, usia, jenis kelamin, pekerjaan atau kedudukan. Keanggotaan
masing-masing kelompok sosial tersebut akan memberikan kedudukan dan prestise
tertentu. Namun yang perlu digarisbawahi adalah sifat keanggotaan suatu
kelompok tidak selalu bersifat sukarela, tapi ada juga yang sifatnya paksaan.
Misalnya, selain sebagai anggota kelompok di tempatnya bekerja, Pak Tomo juga
anggota masyarakat, anggota perkumpulan bulu tangkis, anggota Ikatan Advokat
Indonesia, anggota keluarga, anggota Paguyuban masyarakat Jawa dan sebagainya.
3. In-Group dan
Out-Group
Sebagai seorang individu, kita sering merasa bahwa aku
termasuk dalam bagian kelompok keluargaku, margaku, profesiku, rasku,
almamaterku, dan negaraku. Semua kelompok tersebut berakhiran dengan kepunyaan
“ku”. Itulah yang dinamakan kelompok sendiri (In group) karena aku termasuk di
dalamnya. Banyak kelompok lain dimana aku tidak termasuk keluarga, ras, suku
bangsa, pekerjaan, agama dan kelompok bermain. Semua itu merupakan kelompok
luar (out group) karena aku berada di luarnya.
Menurut William
Graham Sumner, dikalangan kelompok dalam/in group dijumpai persahabatan,
kerjasama, keteraturan, dan kedamaian. Sedangkan hubungan antara kelompok dalam
dengan kelompok luar cenderung ditandai kebencian, permusuhan, perang, dan
sebagainya.
4. Kelompok Primer
(Primary Group) dan Kelompok Sekunder (Secondary Group)
Menurut Charles
Horton Cooley, kelompok primer
adalah kelompok-kelompok yang ditandai dengan ciri-ciri saling mengenal antara
anggota-anggotanya serta kerja sama yang erat yang bersifat pribadi. Sebagai
salah satu hasil hubungan yang erat dan bersifat pribadi tadi adalah adanya
peleburan individu-individu ke dalam kelompok-kelompok sehingga tujuan individu
menjadi tujuan kelompok juga. Oleh karena itu hubungan sosial di dalam kelompok
primer berisfat informal (tidak resmi), akrab, personal, dan total yang
mencakup berbagai aspek pengalaman hidup seseorang.
Di dalam kelompok primer, seperti: keluarga, klan, atau
sejumlah sahabat, hubungan sosial cenderung bersifat santai. Para anggota
kelompok saling tertarik satu sama lainnya sebagai suatu pribadi. Mereka
menyatakan harapan-harapan, dan kecemasan-kecemasan, berbagi pengalaman,
mempergunjingkan gosip, dan saling memenuhi kebutuhan akan keakraban sebuah
persahabatan.
Di sisi lain, kelompok
sekunder adalah kelompok-kelompok besar yang terdiri atas banyak orang,
antara dengan siapa hubungannya tida perlu berdasarkan pengenalan secara
pribadi dan sifatnya juga tidak begitu langgeng. Dalam kelompok sekunder,
hubungan sosial bersifat formal, impersonal dan segmental (terpisah), serta
didasarkan pada manfaat (utilitarian). Seseorang tidak berhubungan dengan orang
lain sebagai suatu pribadi, tetapi sebagai seseorang yang berfungsi dalam
menjalankan suatu peran. Kualitas pribadi tidak begitu penting, tetapi cara
kerjanya.
5. Paguyuban
(Gemeinschaft) dan Patembayan (Gesellschaft)
Konsep paguyuban (gemeinschaft) dan patembayan
(gesellschaft) dikemukakan oleh Ferdinand
Tonnies. Pengertian paguyuban
adalah suatu bentuk kehidupan bersama, di mana anggota-anggotanya diikat oleh
hubungan batin yang murni dan bersifat alamiah, serta kekal. Dasar hubungan
tersebut adalah rasa cinta dan rasa kesatuan batin yang memang telah
dikodratkan. Bentuk paguyuban terutama akan dijumpai di dalam keluarga,
kelompok kekerabatan, rukun tetangga, dan sebagainya. Secara umum ciri-ciri
paguyuban adalah:
- Intimate, yaitu hubungan
yang bersifat menyeluruh dan mesra
- Private, yaitu hubungan
yang bersifat pribadi
- Exclusive, yaitu hubungan
tersebut hanyalah untuk “kita” saja dan tidak untuk orang lain di luar
“kita”
Di dalam setiap masyarakat selalu dapat dijumpai salah satu
di antara tiga tipe paguyuban berikut.
- Paguyuban karena ikatan
darah (gemeinschaft by blood), yaitu gemeinschaft atau paguyuban yang
merupakan ikatan yang didasarkan pada ikatan darah atau keturunan.
Misalnya keluarga dan kelompok kekerabatan.
- Paguyuban karena tempat
(gemeinschaft of place), yaitu suatu paguyuban yang terdiri atas
orang-orang yang berdekatan tempat tinggal sehingga dapat saling
tolong-menolong. Misalnya kelompok arisan, rukun tetangga.
- Paguyuban karena jiwa
pikiran (gemeinschaft of mind), yaitu paguyuban yang terdiri atas
orang-orang yang walaupun tidak mempunyai hubungan darah ataupun tempat
tinggalnya tidak berdekatan, akan tetapi mereka mempunyai jiwa, pikiran,
dan ideologi yang sama. Ikatan pada paguyuban ini biasanya tidak sekuat
paguyuban karena darah atau keturunan.
Sebaliknya, patembayan
(gesellschaft) adalah ikatan lahir yang bersifat pokok untuk jangka waktu
tertentu yang pendek. Patembayan bersifat sebagai suatu bentuk dalam pikiran
belaka (imaginary) serta strukturnya bersifat mekanis seperti sebuah mesin.
Bentuk gesellschaft terutama terdapat di
dalam hubungan perjanjian yang bersifat timbal balik. Misalnya, ikatan
perjanjian kerja, birokrasi dalam suatu kantor, perjanjian dagang, dan
sebagainya.
Ciri-ciri hubungan paguyuban dengan patembayan dapat
diketahui dari tabel berikut:
Paguyuban
Patembayan
Personal
Informal
Tradisional
Sentimental
Umum
Impersonal
Formal, kontraktul
Utilitarian
Realistis, “ketat”
Khusus
6. Formal Group dan
Informal Group
Menurut Soerjono
Soekanto, formal group adalah kelompok yang mempunyai peraturan yang tegas
dan sengaja diciptakan oleh anggota-anggotanya untuk mengatur hubungan antar
sesamanya. Kriteria rumusan organisasi formal group merupakan keberadaan tata
cara untuk memobilisasikan dan mengoordinasikan usaha-usaha demi tercapainya
tujuan berdasarkan bagian-bagian organisasi yang bersifat khusus.
Organisasi biasanya ditegakkan pada landasan mekanisme
administratif. Misalnya, sekolah terdiri atas beberapa bagian, seperti kepala
sekolah, guru, siswa, orang tua murid, bagian tata usaha dan lingkungan
sekitarnya. Organisasi seperti itu dinamakan birokrasi.
Sedangkan pengertian informal group adalah kelompok yang
tidak mempunyai struktur dan organisasi yang pasti. Kelompok-kelompok tersebut
biasanya terbentuk karena pertemuan-pertemuan yang berulang kali. Dasar pertemuan-pertemuan
tersebut adalah kepentingan-kepentingan dan pengalaman-pengalaman yang sama.
Menurut J.A.A van Doorn
- Formal adalah suatu
kelompok yang mempunyai peraturan yang tegas dan sengaja diciptakan oleh
anggotanya untuk mengatur anggotanya
Contoh: Perkumpulan Dokter Gigi Indonesia (PDGI), OSIS
(Organisasi Siswa Intra Sekolah), PSSI (Persatuan Sepak Bola Seluruh
Indonesia), LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat), dan lain-lain.
- Informal adalah suatu kelompok yang memiliki struktur
keanggotaan tertentu, terbentuk secara btak sengaja karena pertemuan yang
berulang-ulang
Contoh: Arisan Ibu-ibu, kelompok pecinta puisi disekolah,
fans club suatu Idol grup, dan lain sebagainya.
7. Membership Group
dan Reference Group
Mengutip pendapat Robert
K Merton, bahwa membership group
adalah suatu kelompok sosial, di mana setiap orang secara fisik menjadi anggota
kelompok tersebut. Batas-batas fisik yang dipakai untuk menentukan keanggotaan
seseorang tidak dapat ditentukan secara mutlak. Hal ini disebabkan perubahan-perubahan
keadaan. Situasi yang tidak tetap akan memengaruhi derajat interaksi di dalam
kelompok tadi sehingga adakalanya seorang anggota tidak begitu sering berkumpul
dengan kelompok tersebut walaupun secara resmi dia belum keluar dari kelompok
itu.
Reference group
adalah kelompok sosial yang menjadi acuan seseorang (bukan anggota kelompok)
untuk membentuk pribadi dan perilakunya. Dengan kata lain, seseorang yang bukan
anggota kelompok sosial bersangkutan mengidentifikasikan dirinya dengan
kelompok tadi. Misalnya, seseorang yang ingin sekali menjadi anggota TNI,
tetapi gagal memenuhi persyaratan untuk memasuki lembaga pendidikan militer.
Namun, ia bertingkah laku layaknya seorang perwira TNI meskipun dia bukan
anggota TNI.
8. Kelompok
Okupasional dan Volunteer
Pada awalnya suatu masyarakat, menurut Soerjono Soekanto, dapat melakukan berbagai pekerjaan sekaligus.
Artinya, di dalam masyarakat tersebut belum ada pembagian kerja yang jelas.
Akan tetapi, sejalan dengan kemajuan peradaban manusia, sistem pembagian kerja
pun berubah. Salah satu bentuknya adalah masyarakat itu sudah berkembang
menjadi suatu masyarakat yang heterogen. Pada masyarakat seperti ini, sudah
berkembang sistem pembagian kerja yang didasarkan pada kekhususan atau
spesialisasi. Warga masyarakat akan bekerja sesuai dengan bakatnya
masing-masing. Setelah kelompok kekerabatan yang semakin pudar fungsinya,
muncul kelompok okupasional yang merupakan kelompok terdiri atas orang-orang
yang melakukan pekerjaan sejenis. Kelompok semacam ini sangat besar peranannya
di dalam mengarahkan kepribadian seseorang terutama para anggotanya.
Sejalan dengan berkembangnya teknologi komunikasi, hampir
tidak ada masyarakat yang tertutup dari dunia luar sehingga ruang jangkauan
suatu masyarakatpun semakin luas. Meluasnya ruang jangkauan ini mengakibatkan
semakin heterogennya masyarakat tersebut. Akhirnya tidak semua kepentingan
individual warga masyarakat dapat dipenuhi.
Akibatnya dari tidak terpenuhinya kepentingan-kepentingan
masyarakat secara keseluruhan, muncullah kelompok volunteer. Kelompok ini
mencakup orang-orang yang mempunyai kepentingan sama, namun tidak mendapatkan
perhatian masyarakat yang semakin luas jangkauannya tadi. Dengan demikian,
kelompok volunteer dapat memenuhi kepentingan-kepentingan anggotanya secara
individual tanpa mengganggu kepentingan masyarakat secara luas.
Beberapa kepentingan itu antara lain:
- Kebutuhan akan sandang,
pangan dan papan
- Kebutuhan akan
keselamatan jiwa dan harta benda
- Kebutuhan akan harga diri
- Kebutuhan untuk mengembangkan
potensi diri
- Kebutuhan akan kasih
sayang
E. Kelompok Sosial
yang Tidak Teratur
1. Kerumunan
(Crowd)
Kerumunan adalah sekelompok individu yang berkumpul secara
kebetulan di suatu tempat pada waktu yang bersamaan. Kerumunan merupakan suatu
kelompok sosial yang bersifat sementara (temporer).
Secara garis besar Kingsley Davis membedakan bentuk
kerumunan menjadi:
- Kerumunan yang
berartikulasi dengan struktur sosial
Kerumunan ini dapat dibedakan menjadi:
1)
Khalayak penonton atau pendengar formal (formal
audiences), merupakan kerumunan yang mempunyai pusat perhatian dan tujuan yang
sama. Misalnya, menonton film, mengikuti kampanye politik dan sebagainya.
2)
Kelompok ekspresif yang telah direncanakan (planned
expressive group), yaitu kerumunan yang pusat perhatiannya tidak begitu
penting, akan tetapi mempunyai persamaan tujuan yang tersimpul dalam aktivitas
kerumunan tersebut.
- Kerumunan yang bersifat
sementara (Casual Crowd)
Kerumunan ini dibedakan menjadi:
1)
Kumpulan yang kurang menyenangkan (inconvenient
aggregations). Misalnya, orang yang
sedang antri tiket, orang-orang yang menunggu kereta.
2)
Kumpulan orang-orang yang sedang dalam keadaan panik
(panic crowds), yaitu orang-orang yang bersama-sama berusaha untuk
menyelamatkan diri dari bahaya. Dorongan dalam diri individu-individu yang
berkerumun tersebut mempunyai kecenderungan untuk mempertinggi rasa panik.
Misalnya, ada kebakaran dan gempa bumi.
3)
Kerumunan penonton (spectator crowds), yaitu kerumunan
yang terjadi karena ingin melihat kejadian tertentu. Misalnya, ingin melihat
korban lalu lintas.
- Kerumunan yang berlawanan
dengan norma-norma hukum (Lawless Crowd)
Kerumunan ini dibedakan menjadi:
1)
Kerumunan yang bertindak emosional (acting mobs), yaitu
kerumunan yang bertujuan untuk mencapai tujuan tertentu dengan menggunakan
kekuatan fisik yang bertentangan dengan norma-norma yang berlaku. Misalnya aksi
demonstrasi dengan kekerasan.
2)
Kerumunan yang bersifat immoral (immoral crowds), yaitu
kerumunan yang hampir sama dengan kelompok ekspresif. Bedanya adalah
bertentangan dengan norma-norma masyarakat. Misalnya, orang-orang yang mabuk.
2. Publik
Berbeda dengan kerumunan, publik lebih merupakan kelompok
yang tidak merupakan kesatuan. Interaksi terjadi secara tidak langsung melalui
alat-alat komunikasi, seperti pembicaraan pribadi yang berantai, desas-desus,
surat kabar, televisi, film, dan sebagainya. Alat penghubung semacam ini lebih
memungkinkan suatu publik mempunyai pengikut-pengikut yang lebih luas dan lebih
besar. Akan tetapi, karena jumlahnya yang sangat besar, tidak ada pusat
perhatian yang tajam sehingga kesatuan juga tidak ada.
F. Massa
Massa merupakan kumpulan orang banyak yang mempunyai
kehendak atau pandangan yang sama,tetapi tidak berkerumun pada suatu tempat
tertentu dan biasanya mengikuti kejadian atau peristiwa penting dengan
alat-alat komunikasi modern sebagaimana halnya publik.
Beberapa unsur komunitas adalah:
1. Seperasaan
Unsur perasaan akibat seseorang berusaha untuk
mengidentifikasikan dirinya dengan sebanyak mungkin orang dalam kelompok
tersebut. Akibatnya, mereka dapat menyebutnya sebagai “kelompok kami” atau
“perasaan kami”.
2. Sepenanggunan
Setiap individu sadar akan peranannya dalam kelompok dan
keadaan masyarakat sendiri memungkinkan peranannya dalam kelompok.
3. Saling memerlukan
Individu yang bergabung dalam masyarakat setempat merasakan
dirinya tergantung pada komunitas yang meliputi kebutuhan fisik maupun
biologis.
Untuk mengklasifikasikan masyarakat setempat, dapat
digunakan empat kriteria yang saling berhubungan, yaitu:
- Jumlah penduduk
- Luas, kekayaan, dan
kepadatan penduduk
- Fungsi-fungsi khusus
masyarakat setempat terhadap seluruh masyarakat
- Organisasi masyarakat yang
bersangkutan
Menurut Robert Bierstedt, kelompok memiliki banyak jenis dan
dibedakan berdasarkan ada tidaknya organisasi, hubungan sosial antara kelompok,
dan kesadaran jenis. Bierstedt kemudian membagi kelompok menjadi empat macam:
- Kelompok statistik, yaitu
kelompok yang bukan organisasi, tidak memiliki hubungan sosial dan
kesadaran jenis di antaranya. Contoh: Kelompok penduduk usia 10-15 tahun
di sebuah kecamatan.
- Kelompok kemasyarakatan,
yaitu kelompk yang memiliki persamaan tetapi tidak mempunyai organisasi
dan hubungan sosial di antara anggotanya.
- Kelompok sosial, yaitu
kelompok yang anggotanya memiliki kesadaran jenis dan berhubungan satu
dengan yang lainnya, tetapi tidak terukat dalam ikatan organisasi. Contoh:
Kelompok pertemuan, kerabat.
- Kelompok asosiasi, yaitu
kelompok yang anggotanya mempunyai kesadaran jenis dan ada persamaan
kepentingan pribadi maupun kepentingan bersama. Dalam asosiasi, para
anggotanya melakukan hubungan sosial, kontak dan komunikasi, serta
memiliki ikatan organisasi formal. Contoh: Negara, sekolah.
|
Paguyuban
|
Patembayan
|
|
Personal
Informal
Tradisional
Sentimental
Umum
|
Impersonal
Formal, kontraktul
Utilitarian
Realistis, “ketat”
Khusus
|
Terimakasih Materi Tentang Pengertian Kelompok Sosialnya :)
BalasHapus